Nama :
Anindya Purnama Effendi
NPM :
21213054
Kelas :
4EB24
Pengelolaan perusahaan adalah sistem dimana perusahaan
diarahkan dan dikendalikan. Di antara permasalahan pengelolaan perusahaan adalah
hak dan perlakuan pemegang saham, pertanggungjawaban direksi, pengungkapan dan
transparansi, dan peran pemegang saham.
Dallas
memberikan sebuah rancangan kerja untuk memahami dan menilai pengelolaan
perusahaan di sebuah Negara. Empat komponen dirancangan kerjanya adalah
infrastruktur pasar, lingkungan hukum, pengaturan lingkungan dan informasi
infrastruktur.
Jurnal I
|
Nama Jurnal
|
Jurnal Bisnis dan
Ekonomi
|
|
Volume atau halaman
|
Vol. 15, No. 01 /
Halaman 67 – 79
|
|
Nama Penulis
|
Pancawati
Hardiningsih
|
|
Judul Jurnal
|
Analisis
Faktor-faktor yang mempengaruhi Voluntary
Disclosure Laporan Tahunan Perusahaan
|
|
Tanggal Jurnal
|
Maret 2008
|
|
Tujuan Penelitian
|
menganalisis pengaruh
porsi kepemilikan saham oleh publik, basis perusahaan, Return On Investment
(ROI), size perusahaan, rasio leverage terhadap tingkat voluntary
disclosure dalam laporan tahunan perusahaan
|
|
Variable Penelitian
|
Variabel Independen :
Voluntary disclosure
Variabel Dependen :
porsi kepemilikan saham oleh publik, basis perusahaan, Return On Investment
(ROI), size perusahaan, rasio leverage
|
|
Kesimpulan Penelitian
|
Hasil penelitian menunjukkan bahwa voluntary
disclosure belum sepenuhnya dapat dijelaskan oleh variabel kepemilikan
saham publik, basis perusahaan, profitabilitas ROI, ukuran perusahaan, dan
rasio leverage karena hanya 15,7%.
Kepemilikan saham oleh publik yang lebih
besar cenderung memberikan voluntary disclosure yang lebih
luas. Hal ini menunjukkan bahwa emiten menganggap bahwa voluntary disclosure
yang dicantumkan merupakan suatu hal yang penting dipertimbangan dalam
penyusunan laporan keuangan . Sehingga jumlah pemegang saham publik yang
semakin besar, menuntut emiten melaporkan kondisi perusahaan secara detail
untuk diketahui kepada publik sehingga diharapkan tidak muncul asimetri informasi.
ROI tidak berpengaruh terhadap voluntary
disclosure, hal ini disebabkan karena dengan diperolehnya laba
sebagaimana dalam sampel penelitian ini, maka informasi laba tersebut
nampaknya sudah merupakan suatu informasi yang cukup baik bagi investor.
Perusahaan besar cenderung memiliki
informasi yang lebih banyak daripada perusahaan kecil. Hal ini memandang arti
pentingnya voluntary disclosure dalam menjelaskan
kemungkinan-kemungkinan biaya competitive disadvantage yang lebih
rendah daripada perusahaan kecil. Alasan mendasar atas lebih besarnya item
pengungkapan pada perusahaan besar disebabkan karena adanya masalah keagenan
dimana perusahaan besar cenderung memiliki biaya keagenan yang lebih besar
daipada perusahaan kecil. Dengan adanya pengungkapan informasi yang lebih
banyak akan mengurangi biaya keagenan
|
Jurnal II
|
Nama Jurnal
|
Jurnal Akuntansi dan
Keuangan Indonesia
|
|
Volume atau halaman
|
Vol. 1, No. 01 /
Halaman 61 – 79
|
|
Nama Penulis
|
Marta Utama
|
|
Judul Jurnal
|
Komite Audit, Good
Corporate Governance dan Pengungkapan Informasi
|
|
Tanggal Jurnal
|
2004
|
|
Tujuan Penelitian
|
untuk
memberikan gambaran kepada pembaca mengenai salah satu pilar dalam mewujudkan
good corporate governance dalam perusahaan yaitu mengenai bentuk,
fungsi dan peran komite audit serta hubungannya dengan pelaksanaan corporate
governance dan pengungkapan informasi perusahaan.
|
|
Variable Penelitian
|
Variabel Independen :
Corporate Governance
Variabel Dependen : Komite
Audit, Good Corporate Governance dan Pengungkapan Informasi
|
|
Kesimpulan Penelitian
|
Setelah
berbagai penjelasan dan pembahasan yang telah disajikan diatas, maka
sampailah kita pada bagian akhir dari makalah ini yaitu bagian penutup. Pada
bab ini, akan disajikan kesimpulan-kesimpulan yang menjadi inti pembahasan
dalam makalah ini. Selain itu, juga akan disampaikan beberapa saran dari
penulis yang diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi
pengembangan konsep corporate governance dalam hubungannya dengan
komite audit dan pengungkapan informasi.
Beberapa hal
yang dapat disimpulkan dari berbagai penjelasan dan pembahasan yang kami
sajikan pada bab-bab sebelumnya adalah sebagai berikut:
1) Secara umum,
komite audit dibentuk untuk membantu dewan komisaris (dalam two tier
systems) untuk mengawasi kinerja kegiatan pelaporan keuangan dan
pelaksanaan audit internal dan eksternal di dalam perusahaan. Dan
karenanya untuk mempertahankan 77 independensi, Komite Audit
beranggotakan Komisaris Independen, dan terlepas dari kegiatan
manajemen sehari-hari dan mempunyai tanggung jawab utama untuk membantu Dewan
Komisaris dalam menjalankan tanggung jawabnya terutama dengan masalah yang
berhubungan dengan kebijakan akuntansi perusahaan, pengawasan internal, dan
sistem pelaporan keuangan.
2) Corporate
Governance adalah
seperangkat peraturan yang mengatur hubungan antara pemegang saham,
pengurus (pengelola) perusahaan, pihak kreditur, pemerintah, karyawan
serta para pemegang kepentingan intern dan ekstern lainnya yang berkaitan dengan
hak-hak dan kewajiban mereka, atau dengan kata lain suatu sistem yang mengatur
dan mengendalikan perusahaan (Cadbury Committee).
3) Menurut OECD (Organization
fo r Economic Cooperation and Development), ada empat unsur
penting dalam Corporate Governance, yaitu: (1) Fairness (Keadilan);
(2) Transparency (Transparansi); (3) Accountability (Akuntabilitas);
(4) Responsibility (Pertanggungjawaban). Prinsip-prinsip Corporate
Governance dari OECD menyangkut hal-hal sebagai berikut: (1)
Perlindungan terhadap hak-hak para pemegang saham; (2) Perlakuan yang
adil terhadap para pemegang saham; (3) Peranan semua pihak yang berkepentingan
(stekeholders) dalam Corporate Governance', (4) Transparansi
dan keterbukaan; (5) Peranan Dewan Komisaris dan Dewan Direksi dalam
perusahaan
4) Regulasi yang
dihasilkan dalam kerangka GCG senantiasa memiliki kandungan permintaan pengungkapan
(disclosure) informasi yang kuat. Dari kedua jenis regulasi yang dihasilkan
oleh kedua regulator yang berbeda yaitu Bapepam dan BEJ, dapat disimpulkan
bahwa dalam pengaturan pelaksanaan GCG sangatlah berdekatan dengan sejauh
mana informasi itu diungkapkan oleh perusahaan. Sehingga penulis
menyimpulkan bahwa dimana ada regulasi terkait GCG maka akan
berpengaruh pada mekanisme pengungkapan informasi perusahaan.
|
Jurnal III
|
Nama Jurnal
|
SNA VII SOLO
|
|
Volume atau halaman
|
Vol. 15, No. 01 /
Halaman 238 – 247
|
|
Nama Penulis
|
Theresia Dwi Hastuti
|
|
Judul Jurnal
|
Hubungan antara Goog
Corporate Governance dan Struktur Kepemilikan Dengan Kinerja Keuangan
|
|
Tanggal Jurnal
|
15-16 September 2005
|
|
Tujuan Penelitian
|
Untuk
Mengetahui :
1)
Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara
kepemilikan terkonsentrasi dan tidak terkonsentrasi dengan kinerja
perusahaan.
2)
Apakah terdapat hubungan antara good corporate
governance yang diwakili oleh proksi disclosure laporan keuangan
dan accruals terhadap kinerja perusahaan.
|
|
Variable Penelitian
|
Variabel Independen :
Q-Tobin
Variabel Dependen : Proporsi
Kepemilikan, Disclosure dan Discretionary
|
|
Kesimpulan Penelitian
|
Berdasarkan
hasil analisis dan pembahasan, penelitian ini menghasilkan kesimpulan sebagai
berikut : (1).Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara struktur
kepemilikan dengan kinerja perusahaan ditolak. (2).Tidak terdapat hubungan
yang signifkan antara manajemen laba dengan kinerja perusahaan. (3). Terdapat
hubungan hubungan yang signifikan antara disclosure dengan kinerja
perusahaan.
|
Sumber :
- Frederick D.S. Choi dan Gary K. Meek. 2012. Internasional Accounting. Jakarta. Salemba Empat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar